Aji Tapak Sesontengan, Ilmu Kuno Penyembuhan Kilat; Penyakit Ringan Cukup 1-2 Menit, Komplikasi Bisa 5-10 Menit

Komunitas Aji Tapak Sesontengan ini secara resmi didirikan pada 16 April 2016 di warung Satriani Pizza, Tohpati, Denpasar. Teknik terapi penyembuhan ini terbilang sangat sederhana karena tidak butuh waktu lama untuk melakukannya. Dan kini di Bali telah ada sebanyak 50 kamitoa (master) dan 250 orang praktisi.

AYU AFRIA UE, Denpasar

AJI Tapak Sesontengan memiliki makna Aji: ilmu, tapak: jejak, sesonthengan: doa yang tulus dalam hati. Sehingga bisa diartikan sebagai ilmu komunikasi untuk meninggalkan jejak kepada tubuh atau organ yang sakit dengan niat yang tulus dari dalam hati. Ilmu ini merupakan ilmu penyembuhan kuno dari nenek moyang, para leluhur dan sang hyang puri. “Kita nggak boleh punya ego ataupun ekspektasi ketika melakukannya. Kami mencoba membantu berbagai keluhan, masalah kesembuhan masalah yang di atas,” jelas Leone Anne salah satu Kamitoa (sebutan untuk master Aji Tapak Sesontengan) di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung (Puputan), Rabu siang (18/1).

Aji Tapak Sesontengan merupakan salah satu terapi yang kini banyak diminati kalangan penderita penyakit misalnya asam urat, kolesterol, encok, pegal linu, diabetes, pasca stroke, sakit kepala dan lain sebagainya. Terutama warga Denpasar, kehadiran terapi ini sangat ditunggu-tunggu banyak kalangan. Tak terkecuali pegawai hingga masyarakat biasa.

Terapi gratis Aji Tapak Sesontengan ini menggunakan metode sederhana dengan cara berkomunikasi dari praktisi kepada bagian tubuh pasien yang sakit, dengan menepuk-nepuk saja. “Ditepuk-tepuk, kami berbicara dengan organ yang sakit dengan bahasa hati, bahasa ketulusan. Karena pada dasarnya organ yang sakit harus disayangi, diajak ngomong supaya sembuh. Seperti itu saja, tanpa alat, tanpa energi, tanpa kodam dan lain sebagainya,” jelas Erik Ronald Kamitoa.

Misalnya hipertensi, lanjut Erik, maka akan kita terapi jantungnya. Proses terapinya hanya beberapa menit saja, dan penyembuhannya tergantung kepada yang di atas. Dalam hitungan menit, para kamitoa maupun praktisi melakukan tepukan pada tubuh ataupun organ yang sakit. Tepukan dilakukan terus menerus sambil berdoa dalam hati. Ada yang cukup dengan sekali terapi langsung sembuh dan ada yang membutuhkan beberapa kali terapi. Kalau berat ya harus beberapa kali. Untuk 1 pasien biasanya dibutuhkan waktu 1-2 menit. Kecuali komplikasi bisa 5 hingga 10 menit. Jika hasilnya tidak memuaskan bisa diulang bisa 15 menit kemudian.

Dibandingkan metode lain Aji Tapak Sesontengan ini mudah dipelajari. Cukup  15 hingga 30 menit sudah bisa. Keunggulannya bisa dipelajari oleh siapa pun mulai dari anak kecil dan orang tua bahkan untuk orang orang yang punya cacat tubuh. Karena semua ada di dalam hati, ilmu ini bisa diterapkan pada binantang, tanaman dan sumber kehidupan. Sedangkan media yang dilakukan untuk penyakit non medis adalah air. Karena air untuk pembersihan.

Sebagai salah satu bukti adalah seorang pasien mengalami syaraf terjepit selama 8 tahun. Dia tidak bisa jongkok atau membungkuk. Lalu dia ambil 2 kali terapi dan langsung bisa loncat-loncat dan bisa lari. Pengalaman lain adalah penderita lumpuh selama 15 tahun berbaring di tempat tidur, diterapi 1 orang, setengah jam kemudian bisa berdiri dan bisa berjalan. “Di Lapangan Lumintang sekitar 3 minggu yang lalu, seorang pria yang mengalami lumpuh setengah badannya diterapi 5 orang kamitoa dalam 5 menit bisa jalan. Dan sapi di Purbalingga Jawa Tengah mengalami lumpuh, setelah tujuh kali di sonteng bisa jalan, begitu juga anjing yang tertabrak,” imbuhnya.

Seperti diungkapkan oleh Ngurah Putra, 57 dari Darmashaba, Badung yang melakukan terapi ini untuk kali kedua setelah merasakan ada perubahan pada kedua tanggannya yang sempat kesemutan setelah bangun pagi hari. “Sistem yang kami tanamkan dengan adanya kegiatan ini adalah mengembalikan ngayah gotong royong, rembug yang sudah hilang di masyarakat. Mereka harus sadar pentingnya komunikasi dan kasih sayang dengan sesama. Sudah banyak dimanfaatkan di mancanegara seperti Singapura, Polandia, Belanda, Jepang, Amerika, Meksiko, Australia, Belgia hingga Spanyol,” imbuhnya. (*/yes)

Sumber.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *