Sukracarya : Ternyata Konsep BTS / Repeater Sudah di Gunakan Oleh Leluhur Kita Sejak Dulu #bagian2


#Bayu_Bhakti_Sewana

BTS #2

Melanjutkan thread sebelumnya tentang “pemancar” /repeater /BTS Bagian #1.

Di dalam setiap situs2 yang cara pembuatannya diwariskan kepada anak cucu keturunan Leluhur Dwipantara, cara2 dan komponen isinya masih dapat ditemukan khususnya di Bali. Masih bisa kita lihat penerapannya dalam prosesi pembuatan pemancar (pelinggih) itu menggunakan apa yang di Bali disebut sebagai “Pedagingan” (Isi). Di dalam sebuah pedagingan berisi “Pancadatu” yaitu campuran 4 jenis logam yang dijadikan 1, kemudian berisi satu buah permata, biasanya “batu mirah” atau yang lainnya. (Bentuk pedagingan lihat gambar).

Pedagingan dengan Pancadatu tersebut berfungsi sebagai layaknya baterai, itu menyimpan energi yang diterima/terpancar dari bumi sebelum dilepaskan/dipancarkan ulang. Pancadatu juga mempolakan/memetakan ulang energi yang diserap dan tersimpan di dalamnya sebelum dipancarkan. Maka dalam peletakan pedagingan dan pancadatu di dalam pelinggih (pemancar) selalu ditekankan agar posisinya tegak berdiri menghadap ke arah depan, sehingga jika kita duduk di depan “pemancar” itu, kita berhadapan muka dengan “pedagingan” juga ditata sedemikian rupa sehingga tidak mudah terguling/rebah/jatuh, sebab ini terkait pola/peta energi yang akan dipancarkannya.

4 jenis logam tersebut adalah:
– Perak sebagai wakil dari warna putih, mewakili Timur, di buana agung mewakili akasa, di buana alit (tubuh manusia) mewakili ruang kosong/rongga2 di dalam tubuh.
– Tembaga sebagai wakil dari warna merah, mewakili Selatan, di buana agung mewakili air, di buana alit mewakili cairan tubuh/darah.
– Emas sebagai wakil dari warna kuning, mewakili Barat, di buana agung mewakili unsur cahaya/matahari, di buana alit mewakili syaraf2 dan sistem “kelistrikan” di tubuh.
– Besi sebagai wakil dari warna gelap, mewakili Utara, di buana agung mewakili tanah, di buana alit mewakili bagian yang padat seperti daging, tulang dsb.

Kemudian Permata/Kristal berfungsi sebagai penyimpan dan generator energi. Batu Mirah yang biasanya dipilih, sebab dapat menyimpan energi dan memancarkan lebih besar daripada jenis batu lainnya, dan harganya lebih terjangkau.

Pertanyaannya sekarang, masihkah semua “baterai” yang terpasang itu menggunakan bahan yang disebutkan di atas? Ataukah sudah imitasi? Menggunakan bahan yang tidak semestinya atau dikurangi atau dihilangkan karena alasan biaya?
Setiap perubahan komposisi dan komponen yang terkandung ada konsekuensinya, dan jangan heran kalau fungsinya pun menjadi tidak sesuai standar.
Di Bali juga dikenal ada acara “mupuk pedagingan”, ini dilakukan untuk memperbaharui “baterai” yang masa pakainya sudah habis (maks 30 tahun sekali).
Sedangkan candi2 di Jawa, banyak yang “baterai” nya sudah hilang. Mulai dari dicuri, karena ada unsur/lempengan emas dan peraknya, atau atas alasan keamanan “baterai” itu diambil dari candi, dipisahkan dari “pemancar”nya dan disimpan di museum. Jadi “pemancar” itu tidak lagi berfungsi, itu semua dapat dimaklumi karena pemahaman ini sebelumnya tidak diketahui.

#Ibu_Danu_Matangi
#Wang_Ki_Maung_Matangi
#Jaya_MahaBhali
#Jaya_Watugunung

Silahkan bagikan… #salamtigajari… \m/

Sumber : Sukracarya Facebook.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *